Harum dan Lembutnya Srikayo Palembang

Posted on

Harum dan Lembutnya Srikayo Palembang

Harum dan Lembutnya Srikayo Palembang

Koran Sindo

loading…
Harum dan Lembutnya Srikayo Palembang
Harum dan Lembutnya Srikayo Palembang. (Koran SINDO).
A+ A-
PALEMBANG – Sebagai kota yang telah berusia ratusan tahun, Palembang memiliki sejarah panjang dengan deretan peninggalan seni dan budaya, termasuk kuliner khas.

Salah satunya yang masih lestari hingga kini adalah srikaya (srikayo dalam bahasa setempat). Anda pernah mendengar atau mencobanya? Namanya memang srikaya, tapi panganan satu ini tidak berbahan atau mengandung buah srikaya.

Rasanya hampir sama seperti puding yang manis dan lembut serta lumer di mulut. Srikayo Palembang sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Palembang. Kue yang sama sekali tidak mengandung tepung hanya terdiri atas gula, santan, dan telur ini selalu menjadi pelengkap dalam hajatan bahkan kegiatan adat.

Baca Juga:
  • Kopi Terbalik yang Unik dan Makan Siang di Rumah Adat Aceh
  • Segarnya Mango Yogurt Mousse untuk Takjil Berbuka Puasa

Srikayo dibuat dalam mangkuk kecil dan berwarna hijau karena menggunakan air aroma pandan, yang menjadi ciri khasnya. Si hijau ini selalu hadir melengkapi hidangan hajatan seperti pernikahan yang menggunakan adat Palembang dan acara adat lain.

Bahkan rasanya menjadi ukuran kebanggaan (prestise) yang punya hajatan. Seperti telah disebutkan, kue beraroma pandan ini dibuat menggunakan bahan telur, gula, dan santan.

Dan untuk menghasilkan warna hijau digunakan air pandan atau bisa juga menggunakan pasta pandan. Di sinilah perbedaannya. Kalau masih menggunakan air perasan daun pandan asli seperti zaman dahulu, maka srikayo yang dihasilkan tidak terlalu hijau, tapi aroma pandannya sangat kuat.

Namun, bila menggunakan pasta pandan, maka srikayo akan menjadi hijau mencolok. “Adapun cara membuatnya, telur dan gula disatukan hingga merata namun jangan sampai mengembang.

Kemudian dimasukkan santan sesuai takaran, dan sari pandan. Lalu dimasukkan dalam cetakan berbentuk mangkuk kecil, kemudian dikukus hingga mengembang. Dahulu, srikayo dilapisi ketan atau dapat diganti dengan roti tawar,” ujar Nurhaya, penjual kue di Pasar Cinde Palembang.

Hanya, pada era milenial saat ini, srikayo dibuat tanpa ketan, namun ada yang tetap dimakan dengan ketan yang dimasak terpisah. Melihat komposisi tersebut, tentu srikayo sebaiknya dihindari bagi pengidap diabetes dan kolesterol tinggi.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba? Tidak harus menunggu prosesi adat, cukup datang ke restoran pempek tertentu, maka di setiap meja telah tersedia si hijau yang lembut dan lezat itu.

Untuk satu mangkuk kecil, cukup membayar Rp2.500 hingga Rp5.000. Atau, dapat pula diperoleh di Pasar Cinde Palembang. “Di toko pempek seperti kawasan Kuliner 26 Ilir masih disediakan,” ujar Dian, perempuan yang biasa menerima pesanan srikayo untuk hajatan.

Saat Ramadan, biasanya srikayo sangat banyak dijual. Karena memang bagi masyarakat Palembang, srikayo juga bisa digunakan untuk takjil berbuka puasa. Jadi tidak heran, panganan manis dan beraroma harum ini selalu tersedia di setiap pasar bedug atau tempat penjualan menu berbuka. (Berli Zulkanedi)

(nfl)

Sumber ArtikelKoran Sindo