Kenali Kondisi Katup Jantung Bocor

Posted on

Kenali Kondisi Katup Jantung Bocor
Ilustrasi jantung

Liputan6.com, Jakarta Orang seringkali mendengar katup jantung bocor. Lantas apa yang menyebabkan katup jantung bocor?

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Vito A Damay menjelaskan katup jantung bocor.

Baca Juga

  • Mengenal Kondisi Jantung Bengkak
  • Operasi Katup Jantung Berhasil, Mick Jagger Bersyukur Masih Hidup
  • Usai Operasi Katup Jantung, Kapan Mick Jagger Bisa Kembali Nyanyi?

“Katup jantung itu membatasi ruangan di jantung. Kalau ada kebocoran dan kerusakan itu sebenarnya karena katup tidak tertutup rapat dan menyempit,” jelas Vito dalam dalam kiriman video Instagram pribadinya kepada Health Liputan6.com, ditulis Senin (6/5/2019).

Adanya katup yang tidak tertutup rapat membuat ruangan jantung membesar sehingga terganggu fungsinya.

Jika cukup berat kondisi katup jantung bocor, maka penanganan berupa pegobatan dan operasi bisa dilakukan.

“Operasinya tanpa bedah terbuka. Jadi, melalui kulit dimasukkan selang. Selang ini membuka penyempitan pada katup jantung. Kita membuat katup jantung tidak terlalu bocor,” lanjut Vito.

2 dari 2 halaman

Gangguan otot jantung

Selain persoalan katup jantung, ada juga gangguan otot jantung atau kardiomipati biasanya terjadi setelah ibu melahirkan. Ini karena selama atau setelah kehamilan, ibu hamil dapat mengalami perubahan jantung.

Kondisi yang disebut kardiomiopati peripartum membuat otot jantung jadi melemah. Kondisi ini membuat jantung tidak memompa sekeras yang seharusnya. Efeknya adalah penumpukan cairan karena darah tidak diedarkan dengan benar.

Penumpukan ini dapat menyebabkan cairan di paru-paru, yang menyebabkan sesak napas dan pembengkakan di kaki.

“Diagnosis perlu lengkap dan enggak bisa bilang ‘Oh baik-baik saja. Dok jantung normal saja.’ Ada pemeriksaan tahapan berupa EKG, foto rontgen, USG jantung,” jelas papar Vito yang berpraktik di Siloam Hospital Lippo Village, Karawaci.

Evaluasi pemeriksaan hasil kesehatan jantung juga dilihat lebih teliti, sejauh mana dosis obat, apakah perlu ditambah obat atau upaya meningkatkan kualitas hidup.

Sumber Artikel Liputan 6