Alasan Orang Indonesia Banyak yang Intoleransi Laktosa

Posted on

Alasan Orang Indonesia Banyak yang Intoleransi Laktosa

https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 19 481 2032040 alasan-orang-indonesia-banyak-yang-intoleransi-laktosa-oDTwVbwiDC.jpg Ilustrasi (Foto: RD)

MERASA mual atau sampai muntah setelah minum susu? Jangan dianggap biasa. Apa yang Anda alami adalah suatu tanda dari kondisi intoleransi laktosa.

Kondisi ini ternyata banyak dialami orang Indonesia. Pada bayi, biasanya dapat diketahui dengan perubahan feses. Bayi yang intoleransi laktosa biasanya fesesnya encer (diare). Pun pada orang dewasa, biasanya mereka yang intoleransi laktosa mengalami kenaikan asam lambung dan diare.

Sebetulnya, apa sih intoleransi laktosa ini?

Dalam beberapa sumber, dijelaskan intoleransi laktosa itu ialah kondisi di mana laktase, sebuah enzim yang diperlukan untuk mencerna laktosa, tidak diproduksi dalam masa dewasa. Untuk menguji batas toleransi laktosa dapat dilakukan tes pernapasan hidrogen (hydrogen breath test) atau tes keasaman kotoran (stool acidity test) agar didapatkan diagnosis klinis.

 Baca Juga: Apa yang Terjadi Pada Tubuh saat Anda Mabuk Alkohol?

Gejala batas toleransi laktosa yang muncul akibat dari konsumsi laktosa yang terlalu banyak adalah produksi gas yang berlebihan (kentut terus) atau serangan diare. Orang yang memiliki kelainan batas toleransi laktosa dapat meminum sekitar 250 ml susu setiap hari tanpa gejala yang parah.

 

Kebanyakan orang dewasa di dunia adalah penderita batas toleransi laktosa. Sebuah perubahan genetis membuat banyak orang Eropa tetap memproduksi laktase dalam usia dewasa, namun mereka adalah minoritas.

Orang yang menderita batas toleransi laktosa dapat mengonsumsi produk-produk bebas-laktosa, misalnya susu kedelai, susu almond dan susu beras. Batas toleransi laktosa tidak sama dengan alergi susu, yang merupakan reaksi tubuh terhadap protein susu.

Terkait dengan intoleransi laktosa dan alergi laktosa, Ahli Gizi dr Juwalita Surapsari, MGizi, SpG(K), menjelaskan, dua kondisi ini berbeda.

 Baca Juga: 6 Pedagang Makanan Punya Badan Seksi, Nomor 6 Bikin Melek

“Kalau intoleransi laktosa, tubuh manusia tidak memiliki laktase atau enzim pencerna laktosa sehingga berdampak pada sistem pencernaannya. Sedangkan, untuk alergi laktosa, ini berarti tubuh alergi terhadap laktosa. Tandanya bisa dilihat dari kondisi kulit atau reaksi alergi lainnya,” paparnya.

 

Nah, kembali ke pembahasan di awal, kenapa banyak orang Indonesia yang intoleransi laktosa?

Dokter Spesialis Bedah Syaraf dr Roslan Yusni Hasan, SpBS atau yang biasa disapa dokter Ryu Hasan coba menjelaskan alasan kenapa orang Indonesia banyak yang intoleransi laktosa dari sejarah awal adanya susu dan evolusi gen manusia.

Dalam cuitannya di Twitter, dokter Ryu Hasan menjelaskan kalau orang dewasa tidak butuh susu. Mereka tidak akan lebih sehat dengan minum susu. Dia juga menjelaskan kalau minum susu diperlukan oleh mamalia bayi, tapi mamalia dewasa tidak perlu.

“Lha, manusia kan mamalia juga, jadi, ya enggak perlu minum susu,” terangnya.

Dokter Ryu Hasan mulai menjelaskan bagaimana susu ini bisa dikonsumsi manusia. “Secara genetis, tubuh manusia dewasa baru ada yang bisa mencerna susu kurang lebih 10.000 tahun yang lalu. Jadi, kalau ada orang yang bilang susu itu menyehatkan, tahan dulu,” paparnya.

Perlu Anda ketahui, minum susu adalah contoh budaya yang ikut berubah dan membentuk evolusi genetik manusia. Bahkan, kadang-kadang secara langsung dan secara cepat. Peningkatan pesat gen manusia untuk mencerna laktosa (susu), yang awalnya tidak ada, adalah contoh klasik evolusi genetis karena budaya.

“Tanpa ada gen pencerna laktosa (laktase, Red), seseorang tidak bisa mencerna susu selepas masa bayi. Jika memiliki, maka dia bisa mencerna susu seumur hidupnya,” ucapnya.

Dokter Ryu Hasan melanjutkan, fakta menjelaskan kalau hampir tidak ada manusia yang memiliki gen ini sebelum 15.000 tahun yang lalu. Tapi, beberapa orang punya. Ini bisa karena mutasi yang terjadi secara acak.

Lebih lanjut, konstelasi genetik gen pencerna susu berubah ketika petani di Eropa mulai beternak binatang penghasil susu, sekitar 10.000 tahun lalu. “Beternak binatang penghasil susu adalah kebudayaan baru saat ini. Hal ini memberi akses baru seleksi alam berkembangnya gen pencerna susu,” sambungnya.

Nah, tersedianya susu sebagai sumber protein alternatif yang bisa membantu menghadapi musim paceklik ini memaksa arah evolusi genetis manusia. Keunggulan untuk bisa lebih bertahan hidup ini dengan cepat menyebarkan gen pencerna susu ke seluruh Eropa, tetapi masih langka di tempat lain.

Kemudian, orang Eropa mulai menularkan budaya minum susu ini ke Indonesia mulai lima abad yang lalu. “Waktu yang terlalu singkat untuk ukuran evolusi. Makanya, banyak dari orang Indonesia yang tidak memiliki gen pencerna laktosa ini, alhasil mereka mengalami intoleransi laktosa,” papar dokter Ryu Hasan.

Dia menegaskan di akhir cuitannya, “Lagipula, awalnya susu adalah makanan alternatif. Jadi, susu bukan kebutuhan pokok manusia dewasa,” pungkasnya.

1 / 2

  • TAG :
  • minum susu
  • Alergi Susu
  • Intoleransi Laktosa

Telah dipublish di lOkezone