Kenali HD dan PD, Terapi bagi Pasien Gagal Ginjal

Posted on

Kenali HD dan PD, Terapi bagi Pasien Gagal Ginjal

https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 13 481 2029591 kenali-hd-dan-pd-terapi-bagi-pasien-gagal-ginjal-06CwQeX4WW.jpg Ilustrasi (Foto: Everydayhealth)

GANGGUAN ginjal menjadi sebuah momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Pasalnya, penyakit ini bersifat permanen dan tidak bisa disembuhkan seumur hidup. Tentu tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang ingin mengidap salah satu penyakit tidak menular mematikan tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah pasien penderita ginjal di dunia berjumlah 850 juta jiwa. Dengan angka pertumbuhan pasien setiap tahunnya mencapai 5-6 persen. Ini artinya, satu dari 10 penduduk di dunia menyandang penyakit gagal ginjal.

BERITA TERKAIT +
  • Waspadai Sakit Kepala dan Sesak, Ciri Anda Alami Gagal Ginjal
  • Catat, Pola Hidup Seperti Ini Sebabkan Gagal Ginjal
  • Pakai BPJS atau Biaya Sendiri, Selang Cuci Darah Hanya Dipakai Sekali

Sebagaimana diketahui, penyakit ginjal terdiri dari dua macam. Penyakit ginjal akut, yang terjadi secara tiba-tiba, dan penyakit ginjal kronik di mana terjadi kelainan dari struktur atau fungsi ginjal yang menetap lebih dari tiga bulan.

 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kemenkes RI, dr. Cut Putri Arianie, MHKes, mengatakan meski tidak dapat disembuhkan, namun para penderita gangguan ginjal kronik masih bisa diterapi untuk mempertahankan dan memperlambat perburukan fungsi ginjal.

“Beberapa cara di antaranya adalah dengan mengontrol gula darah bagi para penderita diabetes, kontrol tekanan darah pada penderita hipertensi dan pengaturan pola makan yang sesuai dengan kondisi ginjal,” terang dr. Cut, saat diwawancarai Okezone dalam Hari Ginjal Sedunia 2019, Rabu (13/3/2019).

Tak hanya itu, terapi juga bisa dibuat semakin efektif dengan terapi menggunakan obat-obatan. Namun, jika penyakit ginjal telah memasuki stadium akhir, maka dokter lebih mengajurkan untuk menjalani terapi pengganti ginjal (dialysis) atau melakukan transplantasi.

 

Dokter Cut juga mengatakan bahwa terapi pengganti ginjal bisa dilakukan dengan dua cara yakni Hemodialisis (HD) dan Peritoneal Dialysis (PD). Hemodialisis seringkali disebut dengan terapi cuci darah yang banyak digunakan oleh masyarakat.

 Baca Juga: Masak Telur Omlet di Bekas Botol Plastik Jadi Viral, Netizen: Langsung Auto Kanker!

“Sebanyak 98 persen masyarakat yang mengalami gagal ginjal akan melakukan terapi HD, sementara dua persen lainnya akan melakukan PD. Kenapa PD lebih sedikit, karena terapi ini membutuhkan sarana prasarana serta Sumber Daya Manusia (SDM) khusus,” lanjutnya.

Sebagaimana diketahui sebanyak 98 persen dari seluruh pasien dialysis di Indonesia menjalani terapi HD. Terapi HD adalah dialisis paling umum dilakukan sebagai pengganti ginjal. Sementara sisanya menjalani terapi PD atau biasa disebut CAPD. Terapi ini memiliki kekurangan karena pasien harus melakukan beberapa kali terapi dalam sehari.

 Baca Juga: Catat, Pola Hidup Seperti Ini Sebabkan Gagal Ginjal

Jika penderita HD menjalani terapi sepenuhnya dengan bantuan alat cuci darah di rumah sakit untuk menyaring darah kotor yang tak bisa dilakukan oleh ginjal, berbeda dengan pasien CAPD yang bisa membersihkan darahnya secara mandiri.

“Pasien dapat memasukkan cairan khusus ke dalam perutnya. Di dalamnya ada sebuah membran dan itu harus sering diganti. Jadi pasien harus mandiri untuk rutin menggantinya. Selain itu petugas rumah sakit juga harus mengantar cairan khusus tersebut ke rumah pasien sebanyak empat kali sehari,” tuntasnya.

(tam)

  • TAG :
  • Cuci Darah
  • Hemodialisa
  • penyakit ginjal
  • gagal ginjal

Telah dipublish di lOkezone