MRT tak pengaruhi pasar otomotif, tapi bisa ubah pola pengendara pribadi

Posted on

MRT tak pengaruhi pasar otomotif, tapi bisa ubah pola pengendara pribadi

MRT tak pengaruhi pasar otomotif, tapi bisa ubah pola pengendara pribadi

Umum

Rangkaian kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase I rute Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia melintas di kawasan Jakarta Selatan. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta (ANTARA News) – Pasar otomotif di wilayah Jakarta dan sekitarnya dinilai tidak akan terpengaruh dengan hadirnya Moda Raya Terpadu atau Mass Rapid Transit (MRT) yang menurut rencana akan beroperasi secara komersial pada bulan depan.
 
Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto, mengatakan bahwa kehadiran sistem transportasi umum tidak akan mempengaruhi penjualan produk otomotif, namun bisa jadi mengubah pola masyarakat dalam menggunakan kendaraannya.
 
"Tentunya penjualan otomtoif akan bergantung pada pertumbuhan ekonomi, juga pendapatan per kapita. Bukan tergantung pada sistem transportasi," ujar Jongkie kepada Antara di Jakarta, Kamis.
 
"Saya melihat di negara dengan sistem transportasi mapan, dengan angkutan massal yang sudah baik misalnya Singapura sampai Hong Kong melalui jaringan bus, LRT, MRT, hingga monorail, penjualan mobil mereka tidak berkurang," kata Jongkie.
 
Menurut Jongkie, pendapatan masyarakat merupakan faktor utama yang mempengaruhi penjualan produk otomotif. Sedangkan kehadiran transportasi umum yang baik layaknya negara maju, justru memudahkan mobilitas masyarakat saat hari kerja, dan mereka bisa menggunakan kendaraan pribadi saat akhir pekan.
 
"Jika pendapatannya meningkat, maka mereka akan tetap membeli mobil," papar Jongkie. "Kalau pendapatannya termasuk golongan mampu beli, saya yakin mereka tetap membeli."
 
"Tapi yang bisa berubah adalah penggunaannya. Jika Senin sampai Jumat pakai angkutan massal, nanti akhir pekan pakai mobil bersama-sama keluarga, entah makan bareng atau kemana pun sesuai kebutuhan," kata Wakil Presiden Komisaris PT Hyundai Mobil Indonesia itu.
 
Kendati demikian, Jongkie tidak menampik apabila ada calon konsumen yang mengurungkan niatnya memiliki kendaraan pribadi apabila sistem transportasi di Indonesia semakin mapan. 
 
"Memang ada persentasi ke sana, tapi kecil," ucap Jongkie, kemudian menambahkan bahwa mobil akan tetap dibeli sesuai kebutuhan.
 
Jodie O'tania selaku Vice President Corporate Communication BMW Group Indonesia juga menuturkan hal yang sama, yakni kehadiran MRT tidak akan berpengaruh signifikan pada penjualan otomotif.
 
Ia meyakini ada saja konsumen mobil mewah yang menggunakan transportasi massal yang nyaman, namun mereka akan menggunakan mobil pribadinya saat libur atau akhir pekan guna menunjang gaya hidup.
 
"Kami bermain di segmen premium dengan karakter konsumen premium yang berbeda," kata Jodie seusai peluncuran BMW X4 di Jakarta.
 
"Jika memang mereka pakai transportasi massal, bisa saja saat weekend pakai mobil bersama keluarga. Jadi pengaruhnya (MRT terhadap penjualan otomotif) tidak signifikan," ujar dia.

Baca juga: Menjajal BTS Skytrain dan MRT Bangkok di Thailand

 
Peluang fleet
 
Akan hadirnya MRT Jakarta fase I rute Lebak Bulus-Bundaran HI juga bisa dijadikan peluang oleh produsen kendaraan komersial untuk menawarkan produk bus kecil atau sedang secara borongan (fleet), sebagai armada pengumpan dari wilayah permukiman menuju stasiun MRT.
 
Kendati menurut rencana akan terdapat sejumlah halte Transjakarta yang terintegrasi dengan stasiun MRT, namun apabila pengguna MRT banyak dari daerah penyangga, misalnya Tangerang Selatan, maka armada bus pengumpan akan dibutuhkan guna memudahkan akses para penumpang.
 
Kemudahan akses tentunya akan menjadi stimulus bagi masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi umum.
 
"Itu angkutan umum bus, baik sedang atau kecil, jadi mungkin saja akan ada kebutuhan untuk kendaraan komersial sebagai pengumpan. Dari rumah naik bus ke stasiun MRT," kata Jongkie.
Feeder Bus Transjakarta Bus Transjakarta Destination. (FOTO ANTARA/Reno Esnir)

Baca juga: Bincang-bincang bersama announcer MRT Jakarta Devianti Faridz

 

 
Nikmati pembangunan infrastruktur
 
Pembangunan infrastruktur, baik sistem transportasi hingga pembangunan jalan tol di daerah, diklaim turut memberikan stimulus positif bagi industri otomotif.
 
Sistem transportasi massal yang mapan berpotensi mengurangi kemacetan dan menciptakan mobilitas yang cepat kepada warganya, yang tetap bisa menggunakan kendaraan pribadi saat akhir pekan.
 
Pembangunan infrastruktur jalan tol juga membuat pemilik kendaraan tidak ragu menjajal kemampuan kendaraan pribadinya untuk menempuh perjalanan keluar kota bersama keluarga.
 
"Pastinya mendukung positif pembangunan infrastruktur," kata Jodie.
 
"Pengguna mobil akan menikmati kenyamanan, kedinamisan, dan performa kendaraan saat melakukan perjalanan jarak jauh," kata dia.
 
Jongkie mengatakan, tidak hanya kendaran komersial yang menikmati akses jalan tol di luar kota untuk pengiriman barang. Pemilik kendaraan pribadi juga menikmati keleluasaan, efisiensi waktu dan biaya saat mengemudi keluar kota.
 
"Jika pakai jalan biasa, berapa kali injak rem dan berapa biaya bensin yang dihabiskan? coba hitung," kata Jongkie. "Tol memang berbiaya, tapi kendaraan komersial dan penumpang sama-sama menikmatinya."

Baca juga: MRT: munculkan kultur baru bertransportasi dan jalan kaki

Baca juga: Pengamat harap tarif MRT bisa kompetitif

Oleh Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2019

  • Tags
  • MRT
  • moda raya terpadu
  • transportasi umum

Sumber ArtikelAntaranews